June 3, 2013

be sensitive!

Hallo selamat malam! :)

Post kali ini akan lebih banyak membicarakan mengenai pengalaman-pengalaman dan kesan yang saya dapatkan ketika praktek teknik wawancara, baik di laboratorium maupun di panti.

Saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi salah satu panti sosial yang berada di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. Banyak pengalaman-pengalaman menarik yang saya dapatkan ketika mengunjungi panti tersebut. Panti tersebut tidak hanya menampung para lansia, tetapi juga para penderita gangguan mental, namun yang tidak membahayakan. 

Saat itu kami diminta untuk mencari satu orang lansia untuk diwawancarai. Saya pun mencari-cari lansia mana yang sekiranya cocok untuk diajak berbicara. Saya berusaha untuk memulai percakapan dengan beberapa lansia, namun saya merasa mereka tidak sesuai dengan kriteria-kriteria yang dibutuhkan. Sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang lansia yang pada akhirnya menjadi subjek saya. 

Tentu tidak mudah bagi saya untuk membina rapport pada awalnya. Saya melakukan kunjungan wawancara selama dua kali, karena data yang saya dapatkan pada wawancara pertama belum cukup banyak untuk dianalisa. Pada pertemuan kedua, subjek saya sudah lebih terbuka dalam menceritakan kehidupannya. 

Ada satu kejadian menarik yang saya alami ketika saya berkunjung ke panti tersebut untuk kedua kalinya. Saat itu saya sampai cukup pagi ke panti tersebut, sehingga saya belum dapat masuk ke barak para lansia yang ada di panti tersebut. Barak tersebut masih dibersihkan sehingga saya menunggu di halaman panti bersama dengan dua orang teman saya. Pada saat saya sedang duduk menunggu, seorang wanita melewati tempat kami duduk dan bertanya mengenai tujuan kedatangan kami, dan sebagainya.

Terdapat perbincangan singkat dengan wanita tersebut, sampai akhirnya wanita tersebut meninggalkan kami. Saya merasa biasa saja dan tidak merasakan keanehan apapun ketika berbincang dengan wanita tersebut. Namun, setelah wanita tersebut berjalan cukup jauh dari tempat  kami duduk, salah satu teman saya berkata bahwa ia pernah bertemu dengan wanita tersebut di salah satu rumah sakit jiwa. Teman saya mengatakan bahwa wanita tersebut dulu tinggal di rumah sakit jiwa.

Daaaan yaa....saya merasa cukup terkejut karena saya bahkan tidak dapat membedakan antara orang dengan gangguan dan orang normal, hahaha.. Memang ada sedikit kejanggalan ketika ia mengatakan bahwa ia hendak pergi meninggalkan kami, namun saya tidak menyangka bahwa hal tersebut terjadi karena ia memiliki gangguan. Mungkin wanita tersebut sudah residual dan dapat berfungsi seperti orang-orang normal di masyarakat.

Hanya saja, saya cukup terkejut karena saya tidak sepeka itu untuk menyadari kondisi wanita tersebut. Yang lebih mengejutkan lagi, teman saya yang lainnya ternyata juga mengalami hal yang sama. Teman saya juga tampak sulit membedakan individu mana yang memiliki gangguan dan mana yang tidak memiliki gangguan.

Mungkin kami harus lebih melatih diri lagi agar dapat menjadi lebih peka dalam menyadari hal-hal seperti itu hehehehehhe :p

Tapi overall, kunjungan ke panti dan mempraktekkan langsung teknik-teknik wawancara yang telah dipelajari merupakan suatu pengalaman yang menyenangkan. Selain itu, saya juga dapat lebih menyadari kekurangan-kekurangan yang saya miliki ketika sedang menjadi pewawancara. Tentu  masih banyak hal yang harus diperbaiki dan saya percaya seiring berjalannya waktu kami dapat menjadi pewawancara yang baik dan profesional.. Amiin hehehe :)

May 5, 2013

What about tattoo?


Hello selamat siang! ^^
Pada post kali ini saya akan memberikan review dan kesan yang saya dapatkan ketika mengikuti perkuliahan Teknik Wawancara. Hari Kamis kemarin, kelas kami didatangkan seorang lulusan S1 Psikologi Untar yang saat ini bekerja sebagai Manager HRD di salah satu Perusahaan Food & Beverage (F&B).

Beliau sempat berpindah-pindah perusahaan sebelumnya, namun hampir semuanya bergerak di bidang F&B. Beliau mengatakan bahwa pekerjaannya sebelum ia menjabat sebagai manager HRD hanya terbatas pada psikotes dan wawancara. Psikotes dan wawancara tersebut dilakukan beliau ketika sedang melakukan proses recruitment dan seleksi.

Nah, apa bedanya recruitment dan seleksi? J

Recruitment merupakan proses dimana perusahaan sedang memasang iklan lowongan pekerjaan di berbagai tempat, mencari dan merangkul calon pekerja sebanyak-banyaknya, yang nantinya calon-calon pekerja tersebut akan diseleksi. Seleksi itu sendiri adalah proses dimana calon pekerja yang sudah melewati proses recruitment tersebut dipilih dan ditentukan posisi serta jabatan yang sesuai dengannya dalam perusahaan tersebut.

Tiap perusahaan tentu memiliki aturan dan kriteria masing-masing ketika memilih dan menyeleksi karyawan. Bahkan dalam satu perusahaan, tiap jabatan pun masing-masing memiliki perbedaan kriteria calon pekerja yang diinginkan.

Beliau juga mengatakan bahwa dalam perusahaan tempat ia bekerja sekarang, terdapat beberapa kriteria yang telah ditetapkan perusahaan ketika memilih dan memperkerjakan karyawan. Salah satu di antaranya adalah karyawan/calon karyawan yang ingin bekerja di perusahaan tersebut tidak boleh bertato.

Well, saya tahu bahwa selama ini memang terdapat perusahaan-perusahaan yang tidak mengijinkan karyawannya untuk memiliki tato. Namun, saya sendiri tidak tahu dengan jelas alasan dibuatnya peraturan seperti itu. Ketika sharing diberikan, beliau menjelaskan alasan di balik peraturan tersebut.

Salah satu alasannya adalah karena sebagian masyarakat Indonesia masih menganut budaya Timur, yang menganggap bahwa tato identik dengan dunia malam. Kehidupan malam tersebut juga sering dikorelasikan dengan hal-hal yang bersifat negatif. Bayangkan apabila karyawan yang bekerja di store mereka memiliki tato. Masyarakat yang datang dan melihat karyawan bertato tersebut mungkin akan merasa takut untuk datang lagi ke store mereka karena menganggap perusahaan mereka memperkerjakan seorang preman. Oleh karena alasan itulah, perusahaan tempat beliau bekerja melarang karyawannya untuk memiliki tato.

Saya personally setuju dengan alasan tersebut. Mungkin saya juga termasuk salah satu pengunjung yang akan merasa takut apabila menemukan ada karyawan store F&B yang bertato. Namun, menurut saya karyawan bertato akan menimbulkan kesan yang berbeda apabila ia bekerja di tempat lain, seperti misalnya di club-club malam atau mungkin bekerja sebagai seorang seniman dan entertainer :)

Okay, sekian ulasan dan review dari saya. 
Hope you guys get some new lesson and thanks for reading! 
See ya on the next post!

"Diam-diam Menghanyutkan"


Hello selamat siang! :)

Topik perkuliahan Perilaku Seksual hari Kamis kemarin membahas dua materi yang sangat menarik, salah satu di antaranya adalah mengenai Sexual Fantasy. Post kali ini pun akan berisikan kesan-kesan atau informasi baru dan unik yang saya dapatkan dalam kelas tersebut.

Sexual Fantasy adalah salah satu bentuk ekspresi seksual yang paling umum. Fantasi seksual pada wanita biasanya lebih romantis dan lebih emosional dibandingkan dengan pria. Sedangkan fantasi seksual pada pria biasanya lebih agresif dan aktif dibandingkan dengan wanita.

Fantasi seksual dialami baik oleh heteroseksual, homoseksual maupun biseksual. Wanita dalam berfantasi seksual memiliki kecenderungan untuk memikirkan pasangannya sendiri, sedangkan tidak demikian dengan pria. Pria dikatakan biasanya memikirkan orang lain yang bukan pasangannya dalam fantasi mereka. (Hmm, agak menyebalkan yaa tampaknya bagi para wanita mendengar hal ini? :p )

Kemudian, apabila dikaitkan dengan tipe kepribadian, apakah ada hubungan antara tipe kepribadian dengan fantasi seksual? Apakah individu dengan kepribadian yang introvert tidak pernah berfantasi seksual? Apakah individu yang terlihat konvensional memiliki fantasi seksual yang normal-normal saja?

Jawabannya tentu saja tidak selalu J

Hubungan antara tipe kepribadian dengan fantasi seksual tersebut tidak berbanding lurus. Maksudnya, seseorang dengan kepribadian yang introvert belum tentu tidak pernah berfantasi seksual, atau mungkin memiliki fantasi seksual yang normal-normal saja. Bisa saja individu yang terlihat introvert,konvensional, seakan kalem dan “diam-diam” saja tersebut bahkan memiliki fantasi seksual yang lebih “gila” dan liar dibandingkan dengan individu yang extrovert.

Saya memang pernah mendengar hal tersebut ketika sedang berbincang dengan teman-teman saya. Mereka mengatakan bahwa baik perempuan maupun laki-laki yang tampaknya tidak terlalu banyak bicara dan cenderung menutup diri biasanya memiliki fantasi seksual yang lebih “liar”. Namun, tentu saja tidak semua dari mereka memiliki fantasi seksual yang seperti itu.
Pada intinya, Bagi individu yang konvensional dan menginginkan pasangan yang juga konvensional dalam hal seksual, jangan menilai calon pasangan hanya dari penampilan luarnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa yang “diam-diam” tersebut akan menjadi “diam-diam menghanyutkan” setelah menikah kelak, hehehe :p

Well, sekian ulasan dan review dari saya. 
Hope you guys get some new and unique information like I did. 
And yes, I think don’t judge the book by its cover exist too in this matter J

April 29, 2013

Sexual Intercourse of People with HIV/AIDS.

Hallo selamat siang!

Pada post kali ini, saya akan sharing tentang informasi dan pengetahuan baru yang saya dapatkan dalam kelas Perilaku Seksual hari kamis kemarin. Pada hari itu, terdapat dua kelompok yang mempresentasikan dua materi yang berbeda, salah satu di antaranya adalah mengenai HIV/AIDS.

Human Immuno Deficiency atau yang sering disingkat dengan HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan yang pada akhirnya akan menjadi AIDS. HIV menyerang sel darah putih, yang disebut dengan limfosit (sel CD-4). HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual, melalui darah yang mengandung HIV, dan dari ibu pengidap HIV kepada bayi.

Kemudian bagaimana dengan pasangan suami istri yang salah satu dari mereka terkena HIV? Apakah itu berarti mereka tidak dapat berhubungan seksual lagi?

Well, mereka tetap dapat berhubungan seksual, hanya saja untuk mengantisipasi penularan virus tersebut, pengidap HIV harus memeriksa kadar sel darah putihnya terlebih dahulu. Mereka dinyatakan sehat dan diijinkan untuk berhubungan seksual apabila sel darah putih yang dimilikinya melebihi 350. Selain pemeriksaan sel darah putih tersebut, pengidap juga harus memiliki pola hidup yang sehat.

Tidak berhenti sampai di situ, untuk menghindari penularan virus HIV tersebut mereka hanya dapat berhubungan seksual yang "aman" pada jam-jam tertentu, yaitu sekitar pukul dua dini hari. Alasannya adalah karena sel CD-4 pada jam tersebut biasanya berada pada kondisi yang tertinggi.

Pada saat hamil pun, pengidap HIV harus mengkonsumsi obat-obatan tertentu untuk melindungi janinnya. Proses melahirkannya pun harus dilakukan dengan cara caesar, karena apabila dilahirkan melalui vagina, maka bayi tetap akan terkena cairan atau darah dari ibunya. Usaha untuk menjaga janin ketika berada dalam kandungan pun akan menjadi sia-sia.

Namun, tetap saja hal-hal yang sudah disebutkan tadi tidak 100% menjamin bahwa bayi yang dilahirkan nantinya benar-benar tidak akan tertular virus HIV. Hanya saja, hal-hal tersebut mungkin akan membantu untuk meminimalisasi kemungkinan penularan yang dapat terjadi. Selain itu, akan menjadi lebih risky juga bagi pasangan yang keduanya mengidap HIV.

Oleh karena itu, untuk menghindari hal-hal tersebut, hendaknya kita memiliki pola hidup yang sehat, tidak menggunakan obat-obatan terlarang, terlebih lagi jika melibatkan penggunaan jarum suntik bersama-sama. Selain itu juga, hendaknya kita tidak "jajan" sembarangan, karena kita tidak tahu penyakit apa yang dimiliki oleh orang lain :)

Well, sekian ulasan dari saya..
wish you get some new lessons from this post 
and see ya on the next post! :)


March 24, 2013

Everybody needs holiday!

Hallo selamat siang! ^^

Post kali ini akan membahas mengenai review atau kesan yang saya dapatkan ketika saya mengikuti perkuliahan Teknik Wawancara hari kamis kemarin. Pada hari itu, materi yang dibahas berjudul Social History, atau biasa disebut dengan riwayat sosial. 

Riwayat sosial adalah rangkaian informasi yang ingin digali dari klien, sejak klien kanak-kanak sampai kondisi klien saat itu. Riwayat sosial ini dapat digali baik secara lisan maupun tertulis. Nah... kenapa sih kita perlu mengetahui riwayat sosial dari klien?

Alasan riwayat sosial dibutuhkan adalah karena siapapun dapat mengalami suatu peristiwa yang persis sama, namun pemaknaan atau persepsi terhadap peristiwa yang sama tersebut tentu tidak sama. Kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam hidup seseorang tersebut tentu memberikan kontribusi pada munculnya masalah klien.

Terdapat sekitar 17 kategori riwayat sosial yang perlu digali dari klien, beberapa di antaranya adalah family history, educational history, dan recreational preferences. 

Family history berkaitan dengan sejarah keluarga klien mulai dari dimana klien dilahirkan dan dibesarkan, nenek moyang klien, dan sebagainya. Dalam family history ini juga interviewer dapat menggali informasi apakah ada keluarga/saudara klien yang memiliki masalah serupa dengan yang dimiliki oleh klien. Sejarah keluarga ini digali sampai i-ter mengetahui tiga generasi silsilah keluarga klien. Setelah mengetahui keseluruhan sejarah keluarga klien, maka i-ter dapat membuat family genogram dari klien tersebut.

Setelah itu, terdapat educational history yang juga merupakan aspek penting untuk digali dari klien. Educational history menyangkut seberapa baik klien dalam studinya. Setelah mendapat informasi mengenai educational history klien, maka i-ter dapat melihat bagaimana relasi klien dengan lingkungan sekolahnya. Selain itu, dalam point ini saya terkesan dengan kalimat yang diucapkan bu Henny bahwa seseorang mungkin saja memiliki aptitude yang luar biasa, namun akan sia-sia apabila ia tidak memiliki attitude yang baik. Maksudnya, seseorang mungkin dapat masuk ke suatu perusahaan karena ia memiliki aptitude yang luar biasa. Namun apabila ia tidak memiliki attitude yang baik, maka perusahaan pun tidak akan mau mempekerjakan orang tersebut.

Aspek berikutnya yang juga perlu digali dari klien adalah recreational preferences. Dalam aspek ini, i-ter menanyakan kepada klien aktivitas yang biasanya dilakukan klien untuk mendapat hiburan dan kesenangan. Pada saat menjelaskan point ini, saya mendapat suatu informasi baru yang membuat saya terkesan. Selama ini, saya tahu bahwa apabila karyawan suatu perusahaan akan diberikan hak cuti setiap tahunnya. Karyawan dapat mengambil hak cutinya tersebut apabila ia ingin beristirahat atau hendak berliburan. Namun, sebelumnya saya tidak tahu alasan diberikannya hak cuti tersebut.

Bu Henny pun akhirnya menjawab ketidaktahuan saya tersebut dengan mengatakan bahwa karyawan diberikan hak cuti atau hak liburan karena setiap harinya mereka sudah bekerja dengan all out, dari pagi sampai sore, bahkan mungkin ada yang sampai malam. Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya burn out atau stress pada karyawan, maka diberikanlah hak cuti tersebut. Saya berpikir, hak cuti mungkin seperti mengisi kembali baterai karyawan tersebut, baik secara fisik maupun mental. Sehingga diharapkan setelah mengambil cuti, seseorang dapat bekerja kembali dengan lebih maksimal.

Well, sekian ulasan dari saya mengenai review dan kesan 
yang saya dapatkan dari kelas Teknik Wawancara. 
Hope you guys get some new lessons like i did :)
Bye, see ya on the next post! ^^

Gambar diambil dari http://thequietstar.wordpress.com/2012/03/14/cuti-aka-holiday/

March 22, 2013

Stop Female Infanticide!


Pernah dengar, ketemu atau kenal pasangan suami istri yang mau anaknya adalah anak laki-laki? Pernah dengar cerita suami yang menyalahkan istrinya karena anak yang dilahirkan istrinya ternyata bukanlah anak laki-laki?

Saya pernah :') 

Cukup miris bagi saya melihat atau mendengar cerita suami yang menyalahkan istrinya karena melahirkan seorang anak perempuan, bukan anak laki-laki seperti yang mereka inginkan. Bahkan akan menjadi lebih miris apabila pasangan pria (ayah) tersebut pada akhirnya tidak menyayangi anak perempuannya.

Bahkan di India, anggapan tersebut masih diyakini dan terjadi apa yang disebut dengan female infanticide. Female infanticide adalah tindakan membunuh anak perempuan yang baru lahir. Anak perempuan yang baru lahir tersebut dapat dibunuh dengan memberi racun organik atau dengan tidak memberikan anak perempuan tersebut makan dan membiarkan anak tersebut mati kelaparan dengan sendirinya. Bukan hanya anak perempuan yang baru lahir, bahkan anak perempuan yang masih dalam kandungan, setelah mereka diketahui berjenis kelamin perempuan, kehamilan tersebut pun akan segera diaborsi. *more info click here*


Gambar diambil dari http://www.askpreeti.com/chit-chat/your-voice-counts-stand-against-female-foeticide.php

Alasan dari female infanticide adalah adanya anggapan bahwa anak laki-laki lebih berguna karena dianggap lebih dapat melindungi keluarganya. Selain itu, anak laki-lak juga dianggap lebih dapat membantu kehidupan dan perekonomian keluarganya. Oleh karena itulah, mereka tidak menginginkan adanya anak perempuan dan membunuh anak-anak perempuan yang baru lahir tersebut.

Cukup tragis dan menyeramkan ya untuk hidup dalam lingkungan yang masih memegang keyakinan tersebut >.< Padahal, anak perempuan saat ini juga banyak yang bekerja dan membantu perekonomian keluarganya. Saya cukup terkejut ketika mengetahui bahwa pada jaman se-modern ini masih ada orang-orang yang meyakini kepercayaan jaman dulu seperti itu.

Masyarakat Indonesia juga dulunya masih meyakini bahwa anak laki-laki dianggap lebih berguna, lebih kuat dan lebih terpandang. Namun, tampaknya saat ini sudah tidak banyak masyarakat Indonesia yang masih berpikiran seperti itu. Kalaupun ada, mungkin mereka adalah orang-orang tua yang semasa mudanya pernah mengalami masa ketidakadilan gender tersebut. 

Well, female infanticide tersebut saat ini juga menjadi concern dari UNICEF dan pemerintahan India. Mereka membuat awareness campaign untuk menyadarkan masyarakatnya akan betapa bodohnya mereka apabila menyia-nyiakan anak perempuannya seperti itu. Hopefully female infanticide benar-benar dapat hilang dan tidak ada lagi anggapan bahwa anak perempuan merupakan anak yang tidak berguna. Selain itu, semoga juga tidak ada lagi tindakan-tindakan pembunuhan anak perempuan seperti itu ya.. Bukan hanya di India tapi di semua negara :)


Gambar diambil dari http://picc.it/c/general/pictures/album/wtf_36536/id/1308763/@stop_female_infanticide

Okay, hope you get some new lessons :)
Thanks for reading and see ya on the next post! ^^

March 17, 2013

Inappropriate Joke?

Hello selamat pagi! ^^

Pada post ini saya akan membahas mengenai kesan yang saya dapatkan ketika saya mengikuti perkuliahan Teknik Wawancara. Perkuliahan hari itu membahas satu materi yang berjudul Keterampilan Dasar Wawancara. 

Pembahasan hari itu dimulai dengan salah satu keterampilan dasar wawancara yang harus dikuasai oleh seorang interviewer (i-ter), yaitu kemampuan membina rapport. Maksudnya adalah membina kondisi yang  yang hangat dan nyaman dengan klien hingga klien akhirnya bercerita kepada i-ter. 

Rapport dapat dimulai dari senyuman hangat, sambutan yang bersahabat, dan sebagainya. Terdapat pula beberapa hal yang harus dihindari ketika sedang membina rapport. Salah satu point dari kemampuan membina rapport tersebut yang menurut saya unik adalah hati-hati dengan humor yang dilontarkan. 

Well, saya sempat berpikir humor seperti apa yang harus dihindari? Dalam kehidupan saya sehari-hari, saya juga seringkali mlontarkan humor-humor saat saya berkomunikasi dengan orang lain. Saat melihat point tersebut, saya tersadar untuk juga menjaga pembicaraan saya kelak apabila saya bertemu dengan klien. 

Namun...bukan berarti kita sama sekali tidak boleh melontarkan humor loh. Hanya saja, humor hendaknya dilontarkan pada situasi, kondisi dan waktu yang tepat. Jika klien sudah mulai menunjukkan senyuman, berikutnya boleh saja kita melontarkan humor untuk lebih mencairkan suasana. Tetapi, tetap saja jangan melontarkan humor yang akan membuat klien tersinggung. 

Apabila i-ter melontarkan humor ketika klien sedang bercertita, atau bahkan sebelum klien bercerita, maka akan terbentuk kesan bahwa i-ter tidak menganggap serius masalah yang dimiliki oleh klien. Klien akan merasa seperti tidak dihargai, karena mereka mungkin saja berpikir bahwa di tengah-tengah masalah yang sedang mereka alami, i-ter malah membuat lelucon atas cerita mereka. Hal tersebut tentu akan merusak rapport yang mungkin sudah sedikit terbentuk. Niat awal untuk mencairkan suasana akan berubah, suasana yang terbentuk berikutnya mungkin akan menjadi lebih kaku. 

Point lain yang juga menurut saya unik dan tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya adalah perhatikan karakteristik ruangan, termasuk sediakan kursi dengan tinggi setara. Kursi i-ter dan klien hendaknya memiliki tinggi yang sama. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah kedudukannya. 

Saya personally merasa cukup terkejut. Saya berpikir bahwa bahkan sampai tinggi kursi pun akan mempengaruhi kesan-kesan yang akan terbentuk. Hal tersebut menyadarkan saya untuk semakin tidak sembarangan ketika bertindak ataupun berbicara kelak ketika bertemu dengan klien. Selain itu, melalui pengalaman beberapa kali mengikuti perkuliahan Teknik Wawancara sebelumnya, saya menjadi semakin tertarik untuk lebih mengenal teknik-teknik wawancara lain yang harus dikuasai oleh seorang pewawancara yang baik :)

Well, sekian ulasan dan opini dari saya...
Hope you guys get some new lessons like i did :)
Bye, see ya on the next post! ^^